Jumat, 19 Agustus 2011

Bai' As-Salam


1.PENGERTIAN BAI’I AS-SALAM
Dalam pengertian yang sederhana bai’ as-salam berarti pembelian barang yang diserahkan di kemudian hari sedangkan pembayaran dilakukan di muka.[1]
Bai’ as-salam adalah jual beli dengan ketentuan si pembeli membayar saat ini untuk barang yang akan diterimanya di masa mendatang,dalam contoh di atas  misalnya pembelian mangga sebelum masa panen itu sah bila ditentukan kualitasnya,kuantitas dan waktu penyerahannya misalnya’’saya beli mangga arumanis sejumlah 100 kg saya bayar sekarang  rp 2000 per kg dan akan saya terima mangganya dua bulan mendatang’’praktek bai as-salm semacam ini banyak ditemui pada masyarakat madinah zaman Rasullallah saw,dalam fiqih islam bai’ as-salam disebut juga bai’as-salaf atau bai’mafalis (al-Kasani,Bidai al-Kasani fi Tartib al-Muqtasid,V:201),menurut Sayyid Sabiq as-salam dinamai juga as-salaf  (pendahuluan) yaitu karena penjualan sesuatu dengan kriteria tertentu  (yang masih berda dalam tanggungan dengan pembayaran disegerakan.
Ketika rasullallah hijrah ke madinah ia menemukan banyak orang yang melakukan jual beli secara salaf dalam jangka waktu dua dan tiga tahun,dalam praktik jual beli salaf seperti ini,Rasullallah bersabda,’’Barang siapa yang melakukan salaf,ia harus melakukannya untuk barang yang jelas berat ukurannya dan untuk jangka waktu yang pasti.’’ (Bukhari,Kitab as-salam,Abu Dawud,Kitab Al-Buyu’’) kebanyakan bai’as salam yang dilakukan ketika itu saling memenuhi kebutuhan antara para petani dan pedagang (Ibnu Qudamah,al-Mughni,1V,275,Zalai,Nasabal Ra’yah Lil Hadits al-Hidayah,1V:42) Ketika pengaruh islam makin meluas di jazirah arab dan wilayah lain kebutuhan bai’ as-salam berkembang untuk barang-barang lain diluar hasil pertanian,sejalan dengan perkembangan ini para ulama madzhab membolehkan bai’ as-salam untuk barang apapun selama memenuhu batasan uyang diatur hadits rasullallah diatas (Ibnu Qudamah,al-Mughni,1V:76 ;Tabawi,Mukhtasar,86;Sahnun,al-Mdawannah al-Kabir ,111:12;Jaziri,Mazahib Araba’ah,11:612),dalam prakteknya pembayaran bai’ as-salam tidak selalu dalam bentuk uang dapat saja dalam bentuk barang lain,syaratnya barang yang di gunakan untuk membayar tidak sejenis dengan barang yang di beli.
Dalam perkembangannya bai’ as-salam tidak saja di gunakan untuk hasil-hasil pertanian jangka waktu penyerahannya pun dapat lebih singkat,bila pada zaman Rasullallah saw jangka waktunya dua atau tiga tahun maka sesuai jenis barangnya dapat saja waktunya hanya satu bulan (Qadi khan,Khaniyah,11:97) atau bahkan satu hari yaitu waktu minimal untuk mengirim barang dari satu pasar ke pasar yang lainnya,(Ibnu Rusyd,Bidayah,11:203-4;Jaziri ,Mazahib Arba’ah,11:617,630,635).waktu penyerahan dapat saja ditentukan tanggal dan harinya tetapai tidak semua jenis barang dapat ditentukan demikian,misalnya untuk hasil pertanian tentu akan sulit untuk menentukan tanggal tepatnya panen,oleh karenanya dapat ditentukan kira-kira dua bulan lagi pada saat panen,bila si penjual gagal menyerahkan barang misalnya barangnya rusak si pembeli bisa mnerima kembali uangnya (Ibnu Qudamah,al-Mughni,1V:294),Najamuddin J’far Hasabn al-Hilli bahkan menegaskan menerima kembali uangnya dalam jumlah yang sama tidak kurang tidak lebih (Sbila si penjual gagal menyerahkan barang misalnya barangnya rusak si pembeli bisa mnerima kembali uangnya (Ibnu Qudamah,al-Mughni,1V:294),Najamuddin J’far Hasabn al-Hilli bahkan menegaskan menerima kembali uangnya dalam jumlah yang sama tidak kurang tidak lebih (Syara’I al-islam,11:66)
2. LANDASAN SYARIAH
Landasan syari’ah bai’ as-salam terdapat dalm Al-Qur’an dan l-Hadits.
a.Al-Qur’an
$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) LäêZtƒ#ys? AûøïyÎ/ #n<Î) 9@y_r& wK|¡B çnqç7çFò2$$sù
Artinya:
‘’Hai orang-orang yang beriman,apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan,hendaklah kamu menuliskannya…’’(Al-Baqarah:282)
Dalam kaitan ayat tersebut,Ibnu Abbas menjelasakan keterkaitan ayat tersebut dengan transaksi bai’ as-salam hal ini tampak jelas dari ungkapan beliau’’Saya bersaksi bahwa salaf (salam)yang dijamin untuk jangka waktu tertentu telah dihalalkan oleh ALLAH pada kitab-NYA dan diizinkan-NYA,’’ia lalu membaca ayat tersebut di atas.
b.Al-Hadits
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasullallah saw dating ke madinah di mana penduduknya melakukan salaf (salam) dalam buah-buahan (untuk jangka waktu) satu,dua,tiga tahun beliau bersabda,
‘’Barangsiapa yang melakukan salaf (salam) hendaknya ia melakukan dengan takaran yang jelas dan timbangan yang jelas pula untuk jangka waktu yang diketahui.’’
Dari Shuhib r.a. bahwa Rasullallah saw.bersabda,
‘’Tiga hal yang di dalamnya terdapat keberkahan: jual beli secara tangguh,muqaradhah (mudharabah),dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah bukan untuk di jual.’’(HR Ibnu Majah)
3.RUKUN BAI’AS-SALAM
Pelaksanaan bai’as-salam harus memenuhi sejumlah rukun berikut:
a.Muslam atau pembeli
b.Muslam ilaih atau penjual
c.Modal atau uang
d.Muslam fiihi atau barang
e.Sighat atau ucapan.[2]
4.SYARAT BAI’AS-SALAM
     Disamping segenap rukun harus terpenuhi,bai’ as-salam juga mengharuskan tercukupinya segenap syart pada masing-masing rukun,di bawah ini akan diuraikan dua di antara rukun-rukun terpenting yaitu modal dan barang.
a.Modal Transaksi Bai’ as-Salam
     Syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam modal bai’as-salam adalah sebagai berikut.
1)Modal harus diketahui
    Barang yang disuplai harus diketahi jenis,kualitas,dan jumlahnya hukum awal mengenai pembayaran adalah ia harus dalam bentuk uang tunai.
2) Penerimaan Pembayaran Salam
     Kebanyakan ulama mengharuskan pembayaran salam dilakukan di tempat kontrak,hal tersebut dimaksudkan agar pembayaran yang diberikan oleh al-muslam (pembeli) tidak di jadikan sebagai utang penjual,lebih khusus lagi pembayaran salam tidak bisa dalam bentuk pembebasan hutang yang harus dibayar dari muslam ilaih 9penjual),hal ini adalah untuk mencegah praktik riba melalui mekanisme salam.
b.Al-Muslam Fiihi (barang)
    Diantara syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam al-muslam fiihi atau barang yang ditransaksikan dalam bai’as-salam adalah sebagai berikut.
1)      Harus spesifik dan dapat diakui sebagai utang
2)      Harus dapat diidentifikasi secara jelas untuk mengurangi kesalahan akibat kurangnya pengetahuan tentang macam barang tersebut (misalnya beras atau kain),tentang klasifikasi kualitas (misalnya kualitas utama,kelas dua,atau ekspor),serta mengenai jumlahnya.
3)      Penyerahan barang dilakukan dikemudian hari.
4)      Kebanyakan ulama mensyaratkan penyerahan barang harus ditunda pada suatu waktu kemudian,tetapi madzhab syafi’I membolehkan penyerahan segera.
5)      Bolenya menentukan tanggal waktu di masa yang akan dating untuk penyerahan barang.
6)      Tempat penyerahan
Pihak-pihak berkontrak harus menunjuk tempat yang disepakati di mana barang harus diserahkan,jika kedua pihak yang berkontrak tidak menentukan tempat pengiriman barang harus dikirim ketempat yang menjadi kebiasaan misalnya gudang si penjual atau bagian pembelian si pembeli.
7)      Penggantian Para muslam fiihi dengan barang lain
Para ulama melarang penggantian muslam fiihi dengan barng yang lainnya penukaran atau penggantian barang as-salam ini tidak di perkenankan,karena meskipun belum diserahkan barang tersebut tidak lagi milik si muslam alaih tetapi sudah menjadi milik muslam (fidz-zimah) bila barang tersebut diganti dengan barang yang memiliki spesifikasi dan kualitas yang sama,meskipun sumbernya berbeda para ulama membolehkannya,hal demikian tidak dianggap sebagai jual beli melainkan penyerahan unit yang lain untuk barang yang sama.

Diperbolehkannya salam sebagai salah satu bentuk jual beli merupakan pengecualian dari jual beli secara umum yang melarang jual beli forward sehingga kintrak salam memiliki syarat-syarat ketat yang harus dipenuhi antara lain sebagai berikut:

1)Pembeli harus membayar penuh barang yang dipesan pada saat akad salam ditandatangani.
2)Salam hanya boleh digunakan untuk jual beli komoditas yang kualitas dan kuantitasnya dapat ditentukan dengan tepat.
3)Salam tidak dapat dilakukan untuk jual beli komoditas tertentu atau produk dari lahan pertanian atau peternakan tertentu.
4)Kualitas dan komoditas yang akan dijual dengan akad salam perlu mempunyai spesifikasi yang jelas tanpa keraguan yang dapat menimbulkan perselisihan.
5)Ukuran kuantitas dari komoditas perlu disepakati dengan tegas jika komoditas tersebut dikuantifikasi dengan berat sesuai kebiasaan dalam perdagangan.
6)Tanggal dan tempat penyerahan barang yang pasti harus ditetapkan dalam kontrak.
7)Salam tidak dapat dilakukan untuk barang-barang yang harus diserahkan langsung.
Semua ahli hukum islam berpendapat sama bahwa akad salam akan menjadi tidak sah jika ketujuh syarat di atas tidak sepenuhnya dipatuhi sebab mereka bersandar pada hadits yang menyatakan:
‘’Barang siapa akan melakukan akad salam,dia harus menjalankan salam sesuai dengan ukuran yang ditentukan,berat yang ditentukan dan tanggal penyerahan barang yang ditentukan.’
PERBEDAAN MUDHARABAH DAN AS-SALAM
PERBEDAAN
                   MURABAHAH
                       AS-SALAM
1.Standardisasi        Akad













2.Pembiayaan
a)Barang yang diperjual belikan haruslah barang-barang yang nyata dan bukan berupa dokumen-dokumen kredit.
b)memerlukan adanya suatu penawaran dan pernyataan menerima (ijab dan qabul)yang mencakup kesepakatan kepastian harga,tempat penyerahan dan tanggal yang disepakati.
C)Bila transaksi jual beli telah disepakati maka harga jual yang ditetapkan tidak dapat berubah.






1)Bank wajib meminta nasabah untuk mengisi formulir permohonan  pembiayaan murabahah,dan pada formulir tersebut wajib diinformasikan:
a)Jenis dan spesifikasi barang yang ingin dibeli
b)Perkiraan harga barang yang dimaksud
c)Uang muka yang dimiliki dan jangka waktu pembayaran
2)Bank menyampaikan tanggapan atas permohonan dimaksud sebagai tanda adanya kesepakatan pra akad
3)Bank meminta uang muka pembelian kepada nasabah sebagai tanda persetujuan kedua pihak untuk melakukan murabahah.
4)Bank harus melakukan pembelian barang kepada supplier terlebih dahulu sebelum akad jual beli dengan nasabah dilakukan
5)Bank melakukan pembayaran langsung kepada rekening supplier
6)Bank mengirimkan atau menyerahkan barang ke nasabah
7)Bank wajib memiliki standar prosedur untuk menetapkan tindakan yang diambil dalam rangka rescheduling kewajiban yang belum terselesaikan.
a)Salam dapat dilakukan untuk barang yang mencerminkan komoditas dengan unit yang mempunyai karakteristik homogeny dan diperdagangkan dengan hitungan,ukuran,barang-barang seperti batu mulia tidak dapat dijual melalui kontrak salam karena setiap batu pada umumnya berbeda satu sama lain.
b)Dalam transaksi salam pembeli tidak dapat mengikat penjual untuk membeli komoditas yang akan diserahkan oleh penjual kepada pembeli,namun setelah penyerahan dilakukan penjual dan pembeli dapat melakukan transaksi jual beli secara independen atas kemauan sendiri.
c)Dalam  transaksi salam  pembeli tidak diperbolehkan sebelum mendapat penguasaan dari barang menjual atau mengalihkan kepemilikan barang ke orang lain.

1)Adanya permintaan tertentu dengan spesifikasi yang jelas oleh nasabah kepada bank syariah sebagai penjual
2)Wa’ad nasabah untuk membeli barang dengan harga dari waktu tanggal barang yang disepakati
3)Mencari produsen yang sanggup untuk menyediakan barang dimaksud (sesuai batas waktu yang disepakati dengan harga yang lebih rendah)
4)Pembayaran oleh nasabah pembeli dilakukan sebagian di awal akad dan sisanya sebelum barang diterima (atau sisanya disepakati untuk diangsur)
5)Pembayaran dilakukan segera oleh bank sebagai pembeli kepada nasabah produsenpada saat pengikatan dilakukan.
6)Pengiriman barang dilakukan langsung oleh nasabah produsen kepada nasabah pembeli pada waktu yang ditentukan
7)Mencari produsen  yang sanggup untuk menyediakan barang yang dimaksud (sesuai batas waktu yang disepakati dengan harga yang lebih rendah.


                            


[1] Muhammad Ibn Ahmad Ibn Muhammad Ibn Rusyd,Bidayatul Mujtihad wa Nihayatul Muqtashia (Beirut:Darul-Qalam,1988)al,Mabsuth vol.X11,hlm.124.
[2] Wahbah az-Zuhaily,al-Fiqhu al-Islami wa Adillatuhu (Damaskus:Darul fikr,1997),cetakan ke-4.vol V,hlm.3604 dan sesudahnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar